RESUME MANAJEMEN RITEL DAN START UP BISNIS 13
NAMA : DUTA ATMA JATI AJI NUGROHO
KELAS : 7B1 MANAJEMEN
NIM : 222010200014
MATKUL : MANAJEMEN RITEL DAN START UP BISNIS
KOMPETENSI DALAM MEMBANGUN BISNIS START UP
KETERAMPILAN DASAR MEMULAI BISNIS
- Akumulasi Modal Manusia: Keterampilan yang terbentuk dari integrasi pendidikan formal, pengalaman kerja, dan pengalaman hidup.
- Sinergi Tim: Tim kewirausahaan memberikan spektrum kemampuan dan pengetahuan yang lebih luas dibandingkan wirausahawan tunggal.
- Konteks Spesifik: Jenis keterampilan yang dibutuhkan bersifat dinamis; bervariasi tergantung pada sektor industri, ambisi pribadi, dan skala usaha.
- Elemen Kunci Pengenalan Peluang: Melibatkan kombinasi antara pengetahuan pasar, keinginan untuk mengeksekusi, dan kewaspadaan kewirausahaan (entrepreneurial alertness)
KERANGKA KERJA KOMPETENSI DIGITAL
KERANGKA KERJA ENTRECOMP
PENGEMBANGAN KETERAMPILAN KEWIRAUSAHAANPENDEKATAN YANG EFEKTIF UNTUK PENGEMBANGAN KETERAMPILAN
pengembangan keterampilan yang efektif berfokus pada Metode Pemecahan Masalah. Artinya, siapa pun bisa mengembangkan kompetensi ini jika mereka mampu menggabungkan pengetahuan pasar yang mereka miliki dengan imajinasi kreatif. Intinya, kita tidak harus selalu menciptakan sesuatu yang belum pernah ada di dunia. Pendekatan yang efektif seringkali sesederhana memperbaiki layanan yang sudah ada agar lebih relevan dengan kebutuhan pelanggan saat ini
- Bird in Hand (Mulai dengan apa yang ada).
- Affordable Loss (Kerugian yang terjangkau).
- Patchwork Quilt (Kerja sama strategis).
- Lemonade (Memanfaatkan kejutan).
- Pilot in the Plane (Kendali masa depan)
- Kewirausahaan budaya merujuk pada kemampuan wirausahawan untuk menciptakan, Kewirausahaan budaya merupakan pendekatan yang melihat bisnis sebagai proses sosial dan simbolik, bukan sekadar aktivitas ekonomi.
- Keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh modal finansial dan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan wirausahawan membangun makna dan identitas bisnis.
- Melalui narasi yang tepat, wirausahawan dapat menciptakan legitimasi usaha di mata lingkungan.
- Wirausahawan sering menghadapi keterbatasan sumber daya, seperti modal, jaringan, dan informasi
- Dukungan pihak eksternal menjadi faktor penting bagi keberlangsungan usaha
- Kewirausahaan budaya membantu membangun legitimasi bisnis di mata pemangku kepentingan
- Narasi yang kuat mampu mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan kepercayaan
- Keterbatasan sumber daya dapat diubah menjadi keunggulan melalui makna dan cerita bisnis
- Narasi Identitas: Fokus pada jati diri wirausahawan, motivasi, dan visi. Contoh: "Saya seorang insinyur yang ingin menyelesaikan masalah sampah plastik melalui bisnis daur ulang."
- Narasi Peluang: Menjelaskan peluang pasar dan bagaimana bisnis akan memanfaatkannya. Contoh: "Permintaan terhadap produk organik meningkat 30% per tahun, dan kami siap memasok."
- Narasi Kegagalan: Mengubah kegagalan menjadi pembelajaran. Contoh: "Produk pertama kami gagal, tetapi dari sana kami belajar pentingnya riset pasar."
- Narasi Proyektif: Menggambarkan masa depan bisnis yang diinginkan. Contoh: "Dalam lima tahun, kami akan menjadi pemimpin pasar di Asia Tenggara."
- Narasi Perubahan Arah: Menjelaskan pivoting atau perubahan strategi. Contoh: "Awalnya kami fokus pada B2C, tetapi setelah melihat respons, kami beralih ke B2B."
Komentar
Posting Komentar